Feeds:
Posts
Comments

1 Agustus 2006
Saat hawa dingin masih menusuk tulang dan rasa kantuk setelah mata dan otak berkerja hamper lebih dari 24 jam, kupaksakan kakiku melangkah membelah bentangan kebun teh yang hijau dengan embun-embun pagi yang masih mengumpul di ujung-ujung pucuk daun siap untuk menyilaukan sinarnya saat mentari pagi menerpa nanti. Uap air yang keluar dari setiap hembusan nafas dan pori tubuh semakin membuat tubuh yang kecil ini terasa tersiksa. Tanpa kalori tambahan pagi ini, terasa jalan menjadi sangat berat.
Continue Reading »

Tulisan ini saya ambil dari blog saya yang lain, dan pernah dimuat dalam tandabaca.com
———————————————————————————–
Kawah Kelud

Pagi itu terasa dingin sekali karena semalam masih menyisakan titik-titik air setelah seharian hujan terus di camp kami. Di kaki Tebing Sumbing, Gajah Mungkur (Gunung Kelud), 5 hari menjelang lebaran tahun 2003, pemanjatan hari pertama kami hanya memperoleh jalur 30 meter saja. Jauh dari target kami yaitu 75 meter jalur. Hujan yang turun sejak pukul 14.oo siang itu menghambat jalan kami untuk terus merayapi dinding tebing cadas yang hitam mulus dan dingin itu. 4 buah Pyton dan beberapa sling dan prusik aku tambatkan di pitch terakhir untuk jalur tapi statik kami esok. Hari itu kami menggunakan sistem pemanjatan himalayan style, dengan menambatkan anchor untuk jalur tali statik untuk digunakan saat esok tim melanjutkan pemanjatan menuju pitch terakhir tadi melalui jumaring.
Continue Reading »

Rabu, 24 Maret 2004
Tugu Yudha, Kerinci
Qtr. 03.00, Shelter II Kerinci
Mata masih terasa berat karena semalam baru bisa tidur jam 23.00 WIB. Udara cukup dingin dengan sesekali suara angin yang cukup kencang menggoyang tendaku yang kutempati bersama si Thofa, Ronald dan Al. Ronald dan Al ternyata semalaman gak tidur, dan kutahu mereka baru keluar dari sleeping bag dan mulai menyalakan kompor untuk memasak air. Aku bangun dan segera kubangunkan Thofa dan anak-anak yang sedang tidur di tenda sebelah. Cukup ramai juga di Shelter II ini, ada sekitar 5 kelompok pendaki yang terbagi dalam 7 tenda.

Aku sempat membangunkan Ucok, Iwan dan Rudi yang berada di ujung jajaran tenda-tenda yang dingin dengan embunnya yang kering. Mereka ternyata juga baru bangun karena suara gaduh yang kami timbulkan.
Continue Reading »

Meninggalkan Jejak

Jejak itu sengaja kutinggalkan, untuk membuat jejak lain yang lebih indah dilihat..
Meninggalkan Jejak
Pagi itu begitu dingin, mencapai 4O menunjukkan pada thermometer yang tergantung di daypack-ku. Sekeliling yang terlihat hanya gundukan pasir hitam halus, kabut tipis dan rerumputan yang terpetak jarang-jarang,tidak seperti saat menuruni Jemplang tadi. Pukul 04.30, masih begitu gelap senyap. Bahkan tubuhku menggigil tak beraturan dengan gemeretak suara gigi yang beradu,  menjadi derita indah sambil menunggu air di teko trangia mendidih. 2 gelas kopi susu krimer yang siap untuk dituangkan dengan air panas, seakan melambai-lambai untuk dijamah bibir ini.

Lautan pasir Bromo, tempat yang begitu eksotis menurutku. Dengan kabut tipis melayang diatas hamparan rerumputan dan deru angin sepoi mengelus daun telinga menciptakan suara menderu halus memasuki gendang telinga. Dingin dan menusuk. Berempat, kami berada di negeri antah berantah ini, seperti negeri dalam cerita LOTR. Perjalanan yang berawal dari ide kilat yang terlintas dipikiran saat kemarin sore masih menikmati hangatnya bakso didepan tempat kami nongkrong sehari-hari.
Continue Reading »

Yang wajib dijalankan ya harus dijalankan..
Sholat shubuh di Lautan Pasir Bromo
Saya mungkin tergolong sebagai orang awam dalam memahami sholat 5 waktu sebagai ibadah wajib, Saya seperti orang pada umumnya dalam menjalankan sholat 5 waktu. Keaktifan saya dalam kegiatan alam bebas beberapa tahun yang lalu, yang seringkali harus berada di gunung, hutan atau ditebing, cukup menyita waktu untuk harus berada di lapangan dalam beberapa hari. Tentu saja ini menjadi salah satu tantangan bagi saya bagaimana saya bisa tetap menjalankan sholat.
Continue Reading »

Membelah kabut diantara sabana, menyisir debu diantara pasir

Bromo

Malam masih terasa hitam pekat saat saya mengawali perjalanan menuju ke Gunung Bromo. Jalur yang kami tempuh malam ini adalah melewati kota Tumpang, sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 25 km selatan kota Malang. Jalanan terasa sepi saat kami mulai menyusuri aspal yang masih basah karena embun yang mulai sedikit menguap karena hangatnya aspal. Musim kemarau memang membuat udara malam semakin kering dan dingin. Dari kota Malang, kita dapat menempuh perjalanan selama 30 menit untuk sampai di Tumpang. Dua buah kuda besi tunggangan kami meraung memecah gelapnya malam, bersama 3 orang teman saya. Lukman, Rifky dan Bobsaid. Ketiganya memang bukan orang asli Malang, tetapi sudah lama menetap untuk study mereka di perguruan tinggi. Lepas kota Tumpang, perjalanan kami dilanjutkan menyusuri jalanan kampung menuju ke Gubuk Klakah. Jalanan yang halus beraspal, tanjakan serta berlubang menjadi hiasan sepanjang perjalanan menuju ke Gubuk Klakah. Gubuk Klakah adalah sebuah desa kecil yang merupakan salah satu penghasil apel, selain kota Batu tentunya. Lepas dari desa ini ditandai dengan gapura selamat tinggal dan perjalanan akan memasuki hutan dengan jalur yang mulai menanjak terus dan berkelok-kelok. Jalanannya saat ini sudah lebih baik karena sudah dilakukan pengecoran, berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, dimana masih banyak lubang disana-sini yang tentunya sangat menyusahkan bila kendaraan terperosok kedalamnya. Jam tangan menunjukkan pukul 03.00 WIB, yang ada hanya pemandangan canopy-canopy dedaunan dan pepohonan di kanan-kiri perjalanan serta udara dingin yang mulai menusuk, saat kami terus melaju menuju Ngadas. Untuk mencapai desa Ngadas, perjalanan dapat ditempuh sekitar 30-45 menit, atau sekitar 15 km. Aroma pupuk kandang yang semakin kerap kita temui sepanjang perjalanan menandakan desa Ngadas sudah semakin dekat.
Continue Reading »

I just remind a word on a picture in small room that i used to be gather with my pals, when still active in campus. This picture shown a rock climber were climb the vertical-cracked rock, with monotone picture captured on it.  Small word typed at the right-bottom corner of that pictured, “everything are possible for those who believe”. wow…shocking on me!!

simple word with deeply meaning.  A word that would be shock everybody who read it. it just inspired me, and maybe a lot of my friends too, to keep on moving on everything happen on this heavy world. a spirit to push till the limit to face-off every single things, problem, even worst, to finish it. we absolutely able to did that because we keep our faith. we believe that possible to fix, possible to finish and possible to get our victory, even in the last minutes will cathced it. Thats why me, and a lot of my friends also, believe that everything are possible.

 

Jakarta, 10/30/09

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.