November 9, 2009 by brokenjade
Membelah kabut diantara sabana, menyisir debu diantara pasir

Malam masih terasa hitam pekat saat saya mengawali perjalanan menuju ke Gunung Bromo. Jalur yang kami tempuh malam ini adalah melewati kota Tumpang, sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 25 km selatan kota Malang. Jalanan terasa sepi saat kami mulai menyusuri aspal yang masih basah karena embun yang mulai sedikit menguap karena hangatnya aspal. Musim kemarau memang membuat udara malam semakin kering dan dingin. Dari kota Malang, kita dapat menempuh perjalanan selama 30 menit untuk sampai di Tumpang. Dua buah kuda besi tunggangan kami meraung memecah gelapnya malam, bersama 3 orang teman saya. Lukman, Rifky dan Bobsaid. Ketiganya memang bukan orang asli Malang, tetapi sudah lama menetap untuk study mereka di perguruan tinggi. Lepas kota Tumpang, perjalanan kami dilanjutkan menyusuri jalanan kampung menuju ke Gubuk Klakah. Jalanan yang halus beraspal, tanjakan serta berlubang menjadi hiasan sepanjang perjalanan menuju ke Gubuk Klakah. Gubuk Klakah adalah sebuah desa kecil yang merupakan salah satu penghasil apel, selain kota Batu tentunya. Lepas dari desa ini ditandai dengan gapura selamat tinggal dan perjalanan akan memasuki hutan dengan jalur yang mulai menanjak terus dan berkelok-kelok. Jalanannya saat ini sudah lebih baik karena sudah dilakukan pengecoran, berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, dimana masih banyak lubang disana-sini yang tentunya sangat menyusahkan bila kendaraan terperosok kedalamnya. Jam tangan menunjukkan pukul 03.00 WIB, yang ada hanya pemandangan canopy-canopy dedaunan dan pepohonan di kanan-kiri perjalanan serta udara dingin yang mulai menusuk, saat kami terus melaju menuju Ngadas. Untuk mencapai desa Ngadas, perjalanan dapat ditempuh sekitar 30-45 menit, atau sekitar 15 km. Aroma pupuk kandang yang semakin kerap kita temui sepanjang perjalanan menandakan desa Ngadas sudah semakin dekat.
Continue Reading »